Ensiklopedia Islam
Advertisement

"Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menganggap sial sesuatu. Dan adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila mengutus seseorang, biasanya Nabi bertanya dulu tentang siapa nama namanya. Kalau ternyata namanya itu membuat Rasulullah kagum, maka Rasulullah gembira dengan nama itu, dan terlihat kegembiraan di wajahnya. Tapi kalau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak suka pada namanya, terlihat ketidaksukaan Nabi pada wajahnya. Dan apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke sebuah desa, Rasulullah bertanya tentang apa nama desanya. Kalau namanya membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senang, Rasulullah gembira, dan terlihat kegembiraan itu di wajahnya. Dan apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak suka namanya, akan terlihat di wajah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam."

Diriwayatkan oleh Abu Daud (2/859), Ibn Hibban (1430), Tamam dalam al-Fawa'id (2/109), Ahmad (5/347-348) dan Ibn Asakir (2/136/1) dari Hisyam, dari Qatadah, dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya secara marfu'.

Pada riwayat Ibn Hibban tidak terdapat qadhiyyah 'amil (perihal utusan), namun ia berada pada riwayat Tamam tanpa ada qadhiyyah qaryah (perihal desa).

Aku (al-Albani) berkata; sanad ini shahih sesuai syarat al-Bukhari dan Muslim. Dan diriwayatkan oleh Ibn Adi (2/28) dari jalur Aus bin Abdillah bin Buraidah, dari Hasan bin Waqid, dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya yang berkata :

"Adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah menganggap sial (sesuatu). Tetapi beliau selalu optimis (mengharapkan sesuatu tsb bernasib baik --pent)." Kemudian menyebutkan kisah Islam-nya Buraidah.

Aus pada sanad ini seorang rawi yang dha'if jiddan. Tetapi mengenai sikap optimis-nya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memang tsabit darinya.... (fi ghairi maa hadiits). Adapun yang sebelumnya maka shahih dengan mutaba'ah dari Qatadah. Wallahu A'lam.

Dan hadits ini disandarkan pada al-Jami' oleh al-Hakim dan al-Baghawi dari Buraidah. Al-Munawi berkata; "Diriwayatkan juga oleh Qasim bin Ashbagh. Sedangkan Abdul-Haqq mendiamkannya sebagai bentuk pentashhihan darinya."

Ibnul-Qaththan berkata: "Dan yang semisalnya telah sah. Karena pada sanadnya terdapat Aus bin... seorang rawi yang munkarul hadits. Abu Daud meriwayatkan darinya :

"Adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah menganggap sial (sesuatu)."

Abu Daud berkata: "Sanadnya shahih."

Aku (al-Albani) berkata: yang benar adalah tashhih Abdul-Haqq. Dan ia bukanlah tashhih li-dzatihi sehingga membuat apa yang dikomentari oleh Ibnul-Qaththan menjadi tertolak. Sesungguhnya ia adalah berdasarkan tafshil (perincian) yang telah aku sebutkan.

Jadi perhatikanlah dan jangan termasuk dari orang-orang yang lalai. Kemudian aku mendapati hadits ini memiliki syahid dari hadits Ibn Abbas radhiyallahu 'anhumaa secara marfu' dengan lafazh:

"Adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selalu optimis dan tidak pernah menganggap sial (sesuatu)." Akan segera datang takhrihnya Insya Allahu Ta'ala di hadits no. 778.

Advertisement