Advertisement

Segera setelah kedatangan beliau di Madinah Al-Munawarah, Nabi Islam, Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, menciptakan dua lembaga: masjid dan pasar. Beliau menjelaskan melalui pernyataan dan tindakan nyata bahwa pasar harus berupa tempat yang dapat diakses secara bebas oleh semua orang tanpa ada pembagian-pembagian (misalnya toko-toko) dan di sana tidak ada pajak, retribusi atau bahkan uang sewa.

Pasar Serupa dengan Masjid. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: Pasar-pasar harus mengikuti Sunnah yang sama dengan masjid, siapa yang mendapat tempat duluan dia berhak duduk sampai dia berdiri dan kembali ke rumah atau menyelesaikan perdagangannya ‒ Suq al Muslimun ka musalla al Muslimun, man sabaqa ila shain fahuwa lahu yawmahu hatta yadaahu. (Al-Hindi, Kanz al-Ummal, V. 488 No. 2688).

Itulah Sadaqah tanpa Ada Kepemilikan Pribadi. Ibrahim ibnu Mundhir al-Hizami meriwayatkan dari Abdullah ibn Ja'far bahwa Muhammad ibn Abdullah ibn Hasan mengatakan, "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam memberi kaum Muslimin pasar sebagai sedekah ‒ Tasaddaqa ala al Muslimun bi aswaqihim. (Ibnu Saba K, Tarikh Al-Madinah al-Munawarah, 304).

Tanpa Penarikan Uang Sewa. Ibnu Zabala meriwayatkan dari Khalid ibnu Ilyas al-Adawi mengatakan, "Surat Umar ibnu Abdul Aziz dibacakan kepada kami di Madinah, yang menyatakan bahwa pasar adalah sedekah dan tidak boleh ada sewa (kira) kepada siapa pun. (As-Samhudi, Wafa al Wafa, 749).

Tanpa Penarikan Pajak. Ibrahim al-Mundhir meriwayatkan dari Ishaq ibn Ja'far ibn Muhammad dari Abdullah ibn Ja'far ibn al-Miswat, dari Syuraih ibn Abdullah ibn Abi Namir bahwa Ata ibn Yasar mengatakan, "Ketika Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam ingin membuat sebuah pasar di Madinah, beliau pergi ke pasar Bani Qainuqa dan kemudian mendatangi pasar Madinah, menjejakkan kaki ke tanah dan bersabda, 'Inilah pasar kalian. Jangan membiarkannya berkurang (la yudayyaq) dan jangan biarkan pajak apa pun (kharaj) dikenakan.'" (Ibnu Saba K, Tarikh Al-Madinah Al-Munawarah, 304)

Di Sana Tidak Ada Pesan atau Klaim Tempat. Ibnu Zabala meriwayatkan dari Hatim ibn Ismail bahwa Habib mengatakan bahwa Umar Ibn Khattab (pernah) melewati Gerbang Ma'mar di pasar dan (melihat) sebuah kendi diletakkkan dekat gerbang dan dia perintahkan untuk mengambilnya. Umar melarang orang meletakkan batu pada tempat tertentu atau membuat klaim atasnya ‒ An yuhajjir alaiha aw yahuzaha (As-Samhudi, Wafa al-Wafa, 749).

Dan di Sana tidak boleh Dibangun Toko-Toko. Ibnu Shabba meriwayatkan dari Salih ibn Kaysan bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Inilah pasar kalian, jangan membuat bangunan apa pun dengan batu (la tatahajjatu) di atasnya dan jangan biarkan pajak (kharaj) dikenakan atasnya." (As-Samhudi, Wafa al-Wafa, 747-8).

Abu Rijal meriwayatkan dari Israil, dari Ziyad ibn Fayyad, dari seorang syekh Madinah bahwa Umar ibn Khattab Radhiyallahu 'anhu melihat sebuah toko (dukkan) yang baru dibangun oleh seseorang di pasar dan Umar merobohkannya. (Ibnu Saba K, Tarikh Madinah Al-Munawarah, 750).

Sumber

  • (Indonesia) Sultaniyya, h. 114‒116.
Konten komunitas ada dibawah CC-BY-SA atau ada pernyataan lain.